
Bila kakiku terperosok, ak menyebut namanya.
Ak bermimpi dalam tidurku, hidup bersama dia.
Apabila disebut namanya, hilanglah kekuatan jiwaku.
Hatiku seperti sirna ditelan namanya.
Demi Allah, Hampir saja ak gila karna memikirkannya.
Dadaku sesak karna rindu!
Karna kini ia berada di Taman Iram, surga yang tak boleh kulihat.
Mungkin ia menuduhku tidak setia dengan janji,
Dan ak tidak mampu mencegahnya.
Kucampur tinta dengan air mataku, Untuk menulis surat padanya.
Bunuhlah ak! Dan biarkan ia..
Setelah nyawaku melayang, janganlah durjam ia.
Cukup,, Ia telah banyak berkorban demi cinta!
Inilah saat perpisahan bagi orang yang akan kukorbankan jiwaku untuknya,
Ak khawatir jika ajalku tiba.. tak dapat memandang wajahnya.













