
Aku merasa telah mengenalnya,
Sebelum kenangan itu terukir.
Siapakah ia sesungguhnya terhadap aku?
Yang masih selalu tiba-tiba hadir..
Bahkan entah karena dan untuk apa.
Atau ini hanya limbah tanpa arti?
Siapakah aku saat ini terhadapnya?
Aku gambarkan ia seperti daun kasih.
Pergi saat kemarau jatuh.
Tapi tetap menghidupi akarnya.
Dan aku.. tempatnya mencakar.
Untunglah di rumah batinku,
Ruh memberi dan memaafkan..
Karna aku sadar, dirinya milik kami.













